“Ada apa ini mah? Apa Henri sakit? Pingsan?”
“Uh.. apa kamu gak ingat?”
Rina mengamati wajah anaknya, mencari sesuatu, yang ada di wajah.
“Ingat apa?”
“Apa kamu gak ingat yang terjadi tadi pagi?”
“Yang Henri ingat, terakhir Henri tidur di kamar.”
“Kapan itu?”
“Entahlah, mungin dini hari. Apa yang terjadi mah?”
“Entahlah.”
“Kok Henri bisa ada di kamar mama? Gak pake baju lagi?”
“Entahlah. Mama juga mau nanya gitu sama kamu. Apa kamu ngigau, terus jalan sambil tidur?”
“Gak tau tuh mah.”
“Ya udah, kamu ke kamarmu dulu. Biar mama masak.”
“Iya deh ma. Tapi, Henri gak bawa baju nih mah.”
“Ya udah. Mama merem deh.”
Rina menutup mata, namun tidak menutup telinga dan lubang lain di tubuhnya. Terasa kasur bergetar pertanda anaknya beranjak.
“Apa… mengapa?”
“Ada apa nak?”
Rina membuka mata lantas melihat anaknya sedang berdiri di samping ranjang sambil menunduk.
“Kok ada baju Henri di sini sih?”
“Mama gak tahu tuh.”
“Sungguh aneh tapi nyata, takkan terlupa.”
Henri lantas membungkuk meraih pakaiannya. Dengan pakaiannya itu Henri lantas menutupi selangkangannya.
“Nah ini punya mama!”
Henri lantas melemparkan pakaian, cd dan bh mamanya ke kasur.
“Makasih.”
Tangan Rina lantas meraih pakaian, namun malah membuat selimut yang menutupi tubuhnya melorot. Terpampanglah kini payudara Rina.
Oh tuhan, kata Henri melihat payudara mamanya, lantas membalikan badan, keluar dari kamar.
Setelah anaknya pergi, Rina mencoba merenungkan kembali apa yang terjadi, terjadilah. Rina yakin Henri tak menyadari atau mengetahui apa yang telah terjadi. Berarti ada dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama, Henri anaknya benar – benar jago bersandiwara, meski Rina akui dunia ini adalah panggung sandiwara.
Kemungkinan kedua, anaknya tidak sehat.
Jangan – jangan, anaknya berkepribadian ganda. Ganda campuran atau ganda kembang misalnya. Kalau gitu kasusnya, bagaimana caranya agar anaknya bisa berganti kepribadian?
Atau jangan – jangan kerasukan jin, iblis, setan dan atau sebangsanya?
Bingung, bingung Rina memikirnya. Apakah dia harus memberitahu semua pada anaknya, atau menunggu langkah selanjutnya dengan membawa anaknya ke dokter?
Sekarang, yang pasti Rina mesti bertanya apakah Henri tahu sesuatu mengenai Dudung.
Rina pun beranjak lantas berdiri. Saat melihat diri, Rina menyadari susunya yang masih ada sisa – sisa peju anaknya.
Apa anaknya harus diberitahu kalau dia baru saja memperkosa ibunya?
Apa anaknya harus diberitahu kalau susunya dipenuhi pejunya?
Akhirnya Rina putuskan untuk mandi. Karena hari masih sore, Rina putuskan untuk tidak mandi kembang. Setelah mandi, Rina memakai cd. Saat memasang bh, susunya terasa tak nyaman. Rina pun putuskan tak memakai bh. Lagian anaknya pun sudah melihat. Rina lantas memakai daster pendek selutut.
Saat melewati kamar anaknya, Rina melihat pintunya setengah terbuka. Rina putuskan untuk masuk. Ternyata anaknya sedang berbaring dengan hanya memakai handuk yang menutupi selangkangannya.
“Kenapa lagi nak?”
“Entahlah mah. Rasanya ada aneh.”
“Aneh gimana?” Rina mulai merasa takut.
“Entah, rasanya Henri seperti pingsan dan atau sejenisnya.”
“Kapan, barusan?”
“Bukan hanya barusan. Tapi kadang – kadang. Seperti tak ada energi, meski setelah meminum minuman energy drink.”
“Mau mama bawa ke dokter?”
“Entahlah mah. Henri merasa pegal – pegal. Juga gak nyaman.”
“Gak nyaman di mana?”
“Eh, di bawah mah,” kata Henri sambil menunjuk selangkangannya yang terbalut handuk.
“Maksudmu, di kemaluanmu?”
“Mah!”
“Ya udah, kamu mandi aja. Siapa tahu jadi enakan.”
“Iya deh.”
Rina lantas ke dapur dan duduk di kursi. Sepertinya anaknya menyadari suatu keganjilan. Selesai memasak, Henri tak muncul jua. Rina putuskan untuk ke kamarnya. Ternyata anaknya sedang berbaring di kasur, matanya menutup. Tubuhnya hanya memakai celana pendek saja. Rina menatap anaknya yang sedang tertidur.
“Henri, sayang.”
“Iya Rina!”
Anaknya menjawab. Matanya menatap mata anaknya yang membuka. Mata yang penuh nafsu, sepeti mata yang ditampilkan saat dia ingin dipanggil Dudung.
“Masih belum puas ya? Mau lagi?”
“Tidak. Bukan.”
Rina berteriak, mencoba bangkit dan berlari. Namun ternyata, tangan anaknya telah mengangkap kakinya.
“Tadinya aku pikir kamu gakkan kembali ke sini.”
“Oh tuhan, jangan lakuin ini. Tolonglah.”
Rina mencoba berontak saat tangan anaknya berusaha melepas cdnya.
“Udahlah. Aku juga tahu kamu pun menyukainya.”
Henri mendorong mamanya hingga berbaring di kasur. Meski berontak, namun cd Rina tetap lepas juga. Tenaganya bukanlah tandingan bagi tenaga anaknya. Dengan penuh ketakutan, Rina melihat anaknya melepas celana pendek yang dipakainya. Rasa takut kembali menyelimutinya saat Rina melihat kontol anaknya kembali terpampang
“Hentikan Dung, mama mohon. Jangan lakukan ini.”
Rina menekan dada anaknya, mencoba mendorong tubuhnya.
“Kenapa? Lagian kali ini kamu menyebut namaku tanpa salah.”
Henri meraih ujung daster dan mencoba menariknya ke atas. Rina mencoba mengembalikan posisi roknya. Namun akhirnya dasternya disobek oleh anaknya.
“Jangan… sudah…”
Tangan Henri lantas memegang tangan mamanya dan menekannya ke kasur.
“Mau ikut berpartisipasi atau mau diperkosa lagi?”
“Jangan lakuin ini pada mama… tolonglah.”
Rina berontak mencoba melepas tangannya.
“Baiklah, aku kasih kau kesempatan untuk berpartisipasi.”
Henri melepas satu tangan, lantas memegang kontol dan membimbingnya ke memek mamanya.
“Jangan.”
Rina berteriak. Tangannya mencakar wajah anaknya. Tak mempedulikan wajanya, Henri menekan kontol hingga masuk ke memek mamanya.
“Oh tuhan, tidak.”
Rina mengerang saat merasakan kontol anaknya kembali memenuhi memeknya. Tangan Henri kembali memegang tangan mama dan menekannya kembali ke kasur.
“OH… bajingan. Anak setan!”
“Ayolah Rin. Gak usah pura – pura gitu.”
Henri mulai memompa kontolnya. Sama seperti sebelumnya, tak butuh waktu lama bagi Rina untuk mulai merasa birahi. Meski Rina sangat membencinya, namun Rina tak bisa membuat tubuhnya menikmati rangsangan yang ada.
“Bajingan. Aku bunuh kau!”
Menyadari tubuh mamanya yang sudah merespon, Henri melepas cengkramannya.
“Mama benci kamu…”
Rina mengangkat pinggul saat anaknya membenamkan kontolnya. Kali ini, kakinya melingkari pantat anaknya. Tangannya mencengkram punggung hingga kukunya menancap di kulit anaknya. Rina merasakan tiap tusukan kontol anaknya membuat orgasmenya makin datang. Lalu, sesaat orgasmenya akan datang, anaknya tiba – tiba berhenti.
“Jangan berhenti bajingan!”
Pinggul Rina bergerak mencoba meraih orgasmenya yang hampir melanda. Rina menatap wajah anaknya yang penuh dengan ekspresi bengis. Lantas Rina merasa anaknya bergerak dan mengejang. Ekspresi wajah anaknya mulai berubah. Rina ketakutan. Rina tak tahu apa yang terjadi. Yang Rina tahu pasti, Rina tak bisa bergerak akibat rasa takutnya.
Rina hanya diam saat anaknya mulai mengeluarkan liur, bahkan mulutnya mulai berbusa. Rina tak tahu, apakah mulut anaknya yang berbusa itu seperti ular, seperti ular, sangat berbisa, sangat berbisa.
Sepeminuman teh kemudian, anaknya berhenti bergetar, lantas ambruk menimpa tubuhnya. Rina diam selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan berkata – kata.
“Nak, kamu kenapa?”
“Apa, dimana, kenapa ini?”
Perlahan, anaknya mengangkat kepala dan menatap Rina.
“Kamu Henri bukan?”
“Iya mah. Tapi…” wajah Henri tampak terkejut.
Perlahan, tangan anaknya mulai bergerak hingga tubuhnya mulai mengangkat. Matanya lantas mulai melihat ke bawah tubuhnya, tempat bagian tubuhnya yang menyatu dengan bagian tubuh mamanya.
“Oh tuhan, ada apa ini mah?”
Anaknya kembali menatap Rina. Wajahnya anaknya terlihat takut.
“OH Henri, mama senang kamu kembali nak,” tangan Rina memeluk anaknya, membuat anaknya kembali dalam pelukannya.
“Tapi, ada apa ini mah, kenapa ini?”
“Gak ada apa – apa. Tenangkan hatimu nak. Mama senang kamu kembali.”
Karena anaknya telah kembali, Rina menjadi senang. Tangannya memegang kepala anaknya, menariknya lantas menciumnya. Saat bibirnya sibuk mencium, Rina merasa kontol anaknya berdenyut. Rina begitu bahagia hingga lupa kalau memeknya masih terisi kontol anaknya. Rasa takut yang tadi menyelimutinya berganti dengan kelegaan dan kebahagiaan.
“Mah, kenapa Henri di sini?”
“Gak apa – apa nak. Nanti mama jelasin. Sekarang mama ingin kamu…”
“Henri mesti ngapain mah?”
“Mama ingin…” Rina tiba – tiba kehilangan keberaniannya.
“Ingin apa mah?”
Bagaimana mungkin Rina meminta anaknya mengentot dirinya. Kalau begitu, apa beda dia sama Dudung? Sama – sama memanjakan nafsu. Tapi, Rina melakukan ini sebelumnya karena Dudung memaksanya. Kali ini, Rina ingin anaknya, Henri, melakukan ini dengan penuh cinta. Apa anaknya akan memahami keinginannya menuntaskan birahi?
Lantas Rina merasa kontol anaknya kembali berdenyut lebih kencang seperti genderang mau perang. Rina merespon dengan mencengkram kontol anaknya dengan memeknya.
“Oh tuhan. Mah, maafin Henri.”
Henri meraik kontolnya, perlahan.
“OH, tidak. Jangan sayang,” Rina merintih saat merasakan kontol anaknya mulai ditarik…
“Maaf mah, Henri …” Henri kembali menusukkan kontol ke memek mama, “gak bisa berhenti.”
“Oh, iya nak. Jangan berhenti sayang.”
Lantas Henri mulai memompa kontolnya. Pompaannya dalam dan menusuk, tapi tidak sebrutal sebelumnya.
“Oh, mah… oh… mama..”
“Iya sayang… entot mama sayang…”
Tangan Rina kini mengelus dan membelai anaknya. Tak lupa, kakinya dia lingkarkan ke tubuh anaknya.
“Oh sayang… mama sayang sama kamu…” Rina mengerang saat orgasmenya makin dekat. “Terus nak, mama mau keluar…”
Rina merasa pompaan anaknya makin cepat hingga akhirnya Rina orgasme. Tubuhnya mengejang. Rina tak pernah orgasme senikmat ini.
Saat orgasmenya mereda Rina merasakan semburan peju ke dalam memeknya. Semburan itu membuat Rina kembali orgasme. Setelah kontol anaknya berhenti menyemburkan peju, anaknya terkulai lemas di atas tubuhnya.
“Oh, mah, maafin Henri.”
Apakah Rina harus memberitahu anaknya kalau dia juga sama – sama menginginkannya ataukah Rina biarkan anaknya menanggung perasaan bersalah? Entahlah.
Yang pasti, saat anaknya berbaring di atasnya, saat kontol anaknya masih tetap terbenam di memeknya, Rina tahu kalau Dudung takkan pernah muncul lagi. Entah kenapa Rina seperti tahu Henri takkan membiarkan Dudung mengambil alih saat Henri bisa mendapatkan memek mamanya kapan pun juga.